Banda Aceh | Suara perlawanan mahasiswa dan pemuda Aceh Singkil pecah di jantung Ibukota Provinsi. Ratusan massa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Aceh Singkil (HIMPAS), Forum Mahasiswa Aceh Singkil (FORMAS), Arah Pemuda Aceh (DPW ARPA Aceh Singkil), dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Aceh Singkil menggelar aksi tegas di depan Kantor KONI DPW Provinsi Aceh, Senin (10/08/2025).
Mereka datang dengan spanduk besar bertuliskan seruan perlawanan, poster sindiran, dan yel-yel bernada kritik tajam. Satu tuntutan mengemuka: akhiri rangkap jabatan di tubuh KONI Aceh Singkil.
“KONI Bukan Tempat Kumpul Jabatan”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Koordinator Lapangan, Sapriadi Pohan, menegaskan bahwa masa depan olahraga Aceh Singkil terancam jika kepemimpinan di KONI dipimpin oleh figur yang memegang terlalu banyak jabatan sekaligus.
“KONI itu rumah pembinaan atlet, bukan tempat untuk mengumpulkan jabatan. Ketua KONI sekarang rangkap tiga jabatan sekaligus: Ketua KONI, Ketua PMI, dan Ketua Partai Hanura. Bagaimana olahraga mau maju kalau fokusnya terbagi?” tegas Sapriadi di tengah orasi, disambut sorakan massa.
Sorotan Politik dan Konflik Kepentingan
Nada kritik makin meninggi ketika Ahmad Fadil, Ketua FORMAS, mengungkap bahwa Ketua KONI Aceh Singkil bukan hanya rangkap jabatan, tetapi juga anak kandung Bupati Aceh Singkil.
“Ini bukan sekadar rangkap jabatan. Statusnya sebagai anak bupati membuat publik wajar curiga adanya pengaruh kekuasaan. Apalagi jabatan strategis olahraga dan kemanusiaan dikuasai satu orang dalam lingkaran keluarga penguasa,” ujarnya lantang.
Massa menilai kondisi ini menciptakan potensi konflik kepentingan yang dapat mencederai netralitas dan profesionalisme KONI, yang seharusnya menjadi lembaga murni pembinaan olahraga.

Empat Tuntutan Utama
Aliansi mahasiswa dan pemuda membawa empat poin tuntutan:
-
Evaluasi total kepengurusan KONI Aceh Singkil oleh KONI Aceh.
-
Desakan kepada Ketua KONI Aceh Singkil untuk melepaskan salah satu jabatan strategis demi profesionalisme.
-
Larangan rangkap jabatan yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
-
Komitmen menjaga KONI sebagai lembaga pembinaan olahraga bebas intervensi politik.
Respons KONI Aceh
Aksi massa akhirnya disambut perwakilan KONI Aceh yang diwakili Sekretaris Umum. Ketua KONI Aceh menyatakan sepakat bahwa pengawasan dan evaluasi terhadap KONI Aceh Singkil adalah hal penting.
“KONI Aceh berkomitmen menjaga lembaga ini tetap bebas dari intervensi politik. Jika KONI Aceh Singkil tidak mampu berkembang, kami akan memberi atensi dan pengawasan lebih,” tegasnya.
Namun, pihaknya juga mengingatkan bahwa Ketua KONI Aceh Singkil baru menjabat beberapa bulan, sehingga progresnya akan dipantau terlebih dahulu.
“Insyaallah beberapa tuntutan adik-adik akan kita kawal demi kemajuan olahraga di Kabupaten Aceh Singkil ke depan,” pungkasnya.
Aksi berakhir tertib, namun para mahasiswa dan pemuda memastikan perjuangan mereka tidak akan berhenti di sini. Sorotan publik terhadap rangkap jabatan dan potensi konflik kepentingan di tubuh KONI Aceh Singkil kini sudah mengemuka ke permukaan — dan bola panas kini berada di tangan KONI Aceh. //Antoni Tin.














































