Sabtu, 10 Januari 2026, menjadi hari yang istimewa di Kota Tebing Tinggi. Di tengah suasana yang penuh khidmat, pelantikan Pengurus Persatuan Islam (Persis) Kota Tebing Tinggi berlangsung dengan lancar. Namun, bagi sebagian orang, agenda formal ini bukan sekadar seremonial organisasi. Ia menjadi pemantik ingatan panjang tentang perjalanan dakwah, bacaan, dan persatuan umat yang telah tumbuh dan berakar sejak puluhan tahun silam.
Ingatan itu membawa kembali pada sosok Pak Ibrahim, seorang tetangga yang dalam keseharian dikenal sebagai ustadz, namun sesungguhnya adalah pendidik kehidupan. Pak Ibrahim, kader Muhammadiyah, aktivis Dewan Dakwah, sekaligus bagian dari Persis, menjadi gambaran nyata persatuan di tengah keragaman organisasi Islam. Di masa lalu, keberagaman peran Pak Ibrahim tidak pernah menjadi persoalan. Justru kini, di tengah kecenderungan saling mencurigai antar-ormas, sosok seperti beliau menjadi teladan penting tentang makna persatuan yang hidup dan nyata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pak Ibrahim berasal dari Kayu Tanam, Sumatera Barat, dan pernah berdakwah di Pekanbaru sebelum akhirnya menetap di Pasaman Barat sejak 1991. Dakwah yang beliau lakukan tidak hanya terbatas di mimbar, tetapi juga hadir di ladang, di rumah, dalam obrolan sederhana, dan—yang paling membekas—di rak bacaan. Melalui beliau, dunia pemikiran Islam mulai terbuka lewat majalah dan buku seperti Suara Muhammadiyah, Media Dakwah, Panji Masyarakat, Al Muslimun, dan Suara Masjid. Bacaan-bacaan itu menjadi jendela awal untuk memahami Islam sebagai gerakan ilmu, adab, dan tanggung jawab sosial. Sebagian majalah itu bahkan masih tersimpan rapi hingga kini, menjadi saksi bisu proses pembentukan cara berpikir dan kesadaran keumatan.

Dari Pak Ibrahim pula, pelajaran penting tentang relasi antarorganisasi Islam didapatkan. Hubungan antara Muhammadiyah, Persis, dan Dewan Dakwah bukanlah relasi yang kaku atau penuh sekat, melainkan relasi ideologis yang bertemu pada titik pemurnian akidah, pencerahan umat, dan tanggung jawab kebangsaan. Di atas simpul-simpul itu, nama Mohammad Natsir selalu disebut dengan penuh hormat, menjadi inspirasi bagi banyak generasi.
Bacaan-bacaan tersebut memperkenalkan pemikiran tokoh-tokoh besar umat seperti Buya Hamka, Mohammad Natsir, Anwar Harjono, Ahmad Sumargono, KH Hasan Basri, hingga tokoh-tokoh muda seperti Amien Rais, Syafi’i Ma’arif, dan Yusril Ihza Mahendra. Mereka hadir bukan sebagai figur kultus, melainkan sebagai teladan berpikir. Meski berbeda organisasi, gaya, bahkan sikap politik, mereka dipersatukan oleh kesadaran yang sama: umat dan bangsa jauh lebih penting daripada ego kelompok.
Menghadiri pelantikan Persis hari ini, terasa lebih dari sekadar memenuhi undangan organisasi. Ia menjadi semacam ziarah ingatan—tentang masa ketika dakwah diajarkan dengan keteladanan, perbedaan dikelola dengan kedewasaan, dan persatuan tidak perlu diteriakkan karena benar-benar dihidupi. Pak Ibrahim mungkin tidak pernah menyebut dirinya tokoh pemersatu, namun melalui laku hidupnya, pelajaran tentang persatuan umat menjadi nyata. Dari Mohammad Natsir, pelajaran tentang kekuatan umat yang lahir dari kesediaan merawat kebersamaan dalam perbedaan juga menjadi sangat relevan.
Di tengah tantangan zaman, godaan politik, dan hasrat saling mengungguli antarorganisasi, ingatan-ingatan seperti ini menjadi penting untuk dihadirkan kembali. Bukan untuk meromantisasi masa lalu, melainkan sebagai cermin bahwa persaudaraan pernah nyata, pernah hidup, dan selalu mungkin untuk dihidupkan kembali.
Pelantikan PD Persis Kota Tebing Tinggi yang dilakukan oleh Ketua PW Persis Sumatera Utara, KH Muhammad Nuh, hari itu menjadi pengingat bahwa dakwah sejati selalu bertaut dengan keikhlasan, keluasan pandang, dan keberanian menempatkan persatuan umat di atas segalanya. Harapan besar pun disematkan kepada kepemimpinan Saudara Muheri Abdullah, agar Persis Kota Tebing Tinggi tidak hanya berjalan tertib secara struktural, tetapi juga melahirkan kepemimpinan dan figur umat yang memahami Persis sebagai organisasi dakwah modernis Islam—teguh dalam prinsip, terbuka dalam pemikiran, dan relevan menjawab tantangan zaman.
Selamat berkiprah kepada PD Persatuan Islam (Persis) Kota Tebing Tinggi. Semoga langkah-langkah dakwahnya senantiasa menjadi cahaya bagi umat dan bangsa.
Opini : Jupri
Pengamat Sosial Politik














































