JAKARTA – 19 September 2026 — Sebuah tonggak baru dalam pengembangan ilmu kesehatan masyarakat tercatat pada peluncuran dan bedah buku bertaraf internasional yang diselenggarakan di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Karya berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” ditulis oleh Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Magister Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU (NIM 257032012), telah resmi ditetapkan sebagai referensi akademik nasional dan internasional.
Kegiatan diselenggarakan oleh Mega Press Nusantara bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), dan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Acara dihadiri secara langsung (luring/offline) oleh 500 peserta dan melalui daring/Zoom oleh 1.500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si., mewakili Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Sambutan tertulis Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ucapan Terima Kasih & Dukungan Lembaga
Penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang mendalam atas dukungan penuh dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, serta Rektor Universitas Indonesia beserta jajaran pimpinan dan sivitas akademika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang telah mendukung dan memfasilitasi terselenggaranya acara bermakna ini. Dukungan institusional juga diberikan oleh FKM USU.
Apresiasi dan Sambutan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo
Dalam sambutan resminya yang disampaikan pada acara tersebut, Kapolri menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas kiprah Muhammad Ja’far Hasibuan:
“Karya Muhammad Ja’far Hasibuan membuktikan bahwa potensi anak bangsa tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi, melainkan oleh kejujuran, disiplin, ketekunan, serta kepedulian sosial. Beasiswa yang diberikan negara bukan sekadar bantuan — melainkan amanah untuk diwujudkan menjadi karya yang bermanfaat bagi rakyat. Beliau telah membuktikan: dari keterbatasan lahir kekuatan, dari perjuangan lahir manfaat yang luas. Semoga ini menjadi teladan bagi seluruh pemuda Indonesia — bahwa dengan kerja keras dan niat tulus, siapa pun bisa berkontribusi bagi kemajuan bangsa.”
Kapolri juga menegaskan kebanggaannya atas penerima Beasiswa Kapolri yang tidak hanya menuntut ilmu, melainkan mengubahnya menjadi inovasi dan pengabdian nyata bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang kurang mampu.
Metodologi dan Kerangka Teoretis
Buku setebal lebih dari 400 halaman ini menyajikan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan pengalaman empiris penulis dengan kerangka teori yang diakui secara ilmiah, meliputi:
– Tingkat Teori Utama: Teori Modal Sosial dan Kapabilitas Manusia, Teori Aksi Terencana, Teori Keadilan Kesehatan, serta Determinan Sosial Kesehatan
– Tingkat Teori Menengah: Psikologi Perkembangan, Teori Sistem Ekologi, Pertumbuhan Pascatrauma, Resiliensi, Pola Pikir Berkembang, dan Kerangka Konsolidasi Penelitian Implementasi (CFIR)
– Penerapan Manajemen: Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, Metode RACI, dan Struktur Pemecahan Kerja (WBS)
Karya ini didukung lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin, sehingga memenuhi standar publikasi akademik dan tidak terbatas pada narasi motivasi semata.
Apresiasi Akademik dan Institusional
– Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc. (Guru Besar FKM UI): Karya ini menjembatani pengalaman hidup autentik dengan teori mutakhir bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan; direkomendasikan untuk kelanjutan studi doktoral di Universitas Harvard.
– Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes. (Guru Besar Gizi FKM USU): Menunjukkan bahwa kerja keras, integritas, dan doa mampu melahirkan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan bangsa; menjadi kebanggaan keluarga, almamater, serta seluruh warga Sumatera Utara.
– Dr. Rosleny Marliani, M.Si. (Wakil Dekan II UIN Sunan Gunung Djati Bandung): Pengalaman hidup penulis menjadi bukti bahwa kesulitan hidup dapat membentuk ketangguhan karakter melalui kerangka psikologi perkembangan dan resiliensi.
– Kemenpora RI: Menetapkan penulis sebagai Ikon Pemuda Resmi.
– Perpustakaan Nasional RI: Menetapkan buku sebagai koleksi referensi nasional.

Pernyataan dan Tanggapan Peserta yang Hadir
Beragam pandangan dan kesan disampaikan oleh peserta yang hadir, baik secara langsung maupun melalui jaringan daring:
“Saya berasal dari daerah yang juga jauh dan terbatas. Kisah ini membuktikan bahwa apa yang sering kita anggap kelemahan justru menjadi kekuatan terbesar kita. Sekarang saya tahu — saya juga bisa.”
— Peserta dari daerah terpencil, mahasiswa kedokteran
“Biasanya buku motivasi hanya menyampaikan kisah sukses. Yang berbeda di sini: setiap langkah dijelaskan secara ilmiah. Ada teori, ada kerangka kerja, ada metode yang bisa ditiru. Ini bukan sekadar inspirasi — ini panduan yang bisa dipelajari.”
— Peneliti, Lembaga Kajian Sosial
“Saya bergerak di bidang usaha. Yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana beliau mengelola keterbatasan modal, waktu, dan akses, lalu mengubahnya menjadi produk yang bermanfaat dan diterima masyarakat. Prinsip manajemen yang diterapkan sangat relevan bagi kami di dunia usaha.”
— Pengusaha sosial, hadir secara luring
“Sebagai pelajar, saya sering merasa asal desa bukan tempat untuk bermimpi besar. Hadir di sini membuka mata saya — mimpi tidak harus lahir di kota besar. Ia bisa tumbuh di mana saja, asalkan dijaga dengan ketekunan dan kejujuran.”
— Siswa SMA, peserta daring
“Pendekatan yang menyatukan pengalaman pribadi dengan teori ilmiah adalah hal yang sangat langka. Ini menjadikan buku ini referensi yang unik sekaligus menginspirasi — layak dibaca oleh siapa saja, dari kalangan manapun.”
— Dosen Perguruan Tinggi
“Saya dari luar negeri. Pesan sederhananya: latar belakang tidak menentukan masa depan. Itu bahasa yang dipahami semua bangsa. Buku ini layak dibaca di mana saja.”
— Peserta asing, komunitas pembaca internasional
Pernyataan Penulis
“Saya membuktikan bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi bukan penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah berstandar internasional. Seluruh ilmu yang saya peroleh saya arahkan menjadi inovasi yang bermanfaat, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Kepercayaan yang diberikan negara melalui Beasiswa Kapolri dan bimbingan para dosen menjadi amanah yang tidak akan saya sia-siakan,” ujar Muhammad Ja’far Hasibuan.














































