ACEH BARAT | Liputan1.net — Di tengah hiruk-pikuk dunia jurnalistik yang kian dinamis, sosok Pak Almanudar (Wartawan Media Online METROZONE.net Kaperwil Aceh) saat ini berdomisili di Kabupaten Aceh Barat, hadir sebagai figur yang tenang dan bersahaja dan salah satu wartawan yang cukup berani mengungkap kebenaran. Di usianya yang telah menginjak lebih dari lima dekade yang saat ini sudah beranjak usia 55 tahun, ia masih aktif menulis dan terlibat dalam berbagai kegiatan jurnalistik, menjadi inspirasi bagi wartawan muda dan masyarakat sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Almanudar memulai karier jurnalistiknya pada era 1990-an, saat teknologi belum secanggih sekarang dan informasi masih sangat bergantung pada kerja keras lapangan. Dengan tekad kuat dan idealisme tinggi, ia mengabdikan dirinya untuk menyuarakan kebenaran dan menjadi penyambung suara rakyat.
“Menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan jiwa,” ungkapnya suatu sore di ruang kerjanya yang sederhana, penuh dengan tumpukan kliping berita dan buku-buku lama.
Meski sudah pensiun dari media tempat ia bekerja dahulu, Almanudar saat ini tetap aktif menulis opini dan kolom mingguan di beberapa media lokal, Ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam seminar jurnalistik dan pelatihan menulis bagi generasi muda.
Wartawan senior Aceh Barat ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana, tutur kata yang santun, serta komitmen tinggi terhadap etika jurnalistik. Ia menolak keras penyalahgunaan profesi demi kepentingan pribadi atau politik, dan selalu menekankan pentingnya integritas dalam setiap peliputan.
“Berita itu harus jujur dan berimbang. Jangan sekali-kali menjual nurani untuk kepentingan sesaat,” pesannya kepada para jurnalis muda yang sering datang menimba ilmu darinya.
Sosok Almanudar tidak hanya dihormati karena pengabdiannya di dunia pers, tetapi juga karena kepeduliannya terhadap masyarakat. Ia aktif dalam kegiatan sosial, khususnya di bidang pendidikan dan literasi.
Di usia yang memasuki usia setengah abad lebih ini, Almanudar adalah bukti hidup bahwa semangat dan idealisme tak lekang oleh waktu. Ia bukan hanya wartawan, tetapi juga teladan, penjaga nurani, dan penjaga nilai-nilai luhur dalam dunia jurnalistik (*)












































